Tanggap Dampak Kebakaran: Dinkes Kepri Bersama UPTD Instalasi Farmasi Dinkes Provinsi Kepri Bagikan Masker & Vitamin, Edukasi Bahaya Asap untuk Lindungi Masyarakat

30 Maret 2026, 08:00 WIB 694 kali dibaca
Kategori : Perangkat Daerah

Menindaklanjuti penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Bintan berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 220/III/2026 tanggal 25 Maret 2026, UPTD Instalasi Farmasi bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau bergerak cepat melaksanakan aksi tanggap darurat melalui pembagian masker dan vitamin kepada masyarakat terdampak.

Penetapan status tanggap darurat ini dilatarbelakangi oleh kondisi cuaca panas dan curah hujan rendah yang menyebabkan kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, dr. Yosie Susanti, MAP, menegaskan pentingnya langkah preventif untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.

“Dalam situasi tanggap darurat ini, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya asap. Penggunaan masker sangat penting untuk mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil,” ungkap beliau.

Selain pembagian masker, pemberian vitamin juga dilakukan guna meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat di tengah paparan asap dan kondisi cuaca ekstrem yang tidak menentu.

Melalui kegiatan promosi kesehatan (promkes), masyarakat juga diberikan edukasi mengenai bahaya asap yang dapat mengganggu sistem pernapasan, memperburuk penyakit kronis, serta menurunkan kualitas hidup apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas air bersih di tengah kondisi kekeringan. Air yang layak digunakan harus memenuhi syarat jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan bebas dari kuman penyakit. Hal ini menjadi kunci dalam pencegahan penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan Demam Berdarah Dengue (DBD), yang berisiko meningkat saat kondisi lingkungan tidak stabil.

Lebih lanjut, dr. Yosie Susanti menekankan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi saat ini menuntut masyarakat untuk lebih disiplin dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan asap secara langsung, serta menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan.

Dengan sinergi lintas sektor dan peran aktif masyarakat, diharapkan dampak bencana kekeringan dan kebakaran hutan dapat diminimalisir, serta kesehatan masyarakat tetap terjaga selama masa tanggap darurat yang berlangsung hingga 7 April 2026.

Editor: Admin UPTD IF